Indonesia Merdeka ?

Tak terasa, kini bangsa Indonesia telah merayakan  'ulang tahun' kemerdekaannya yang ke 67.  Kebahagiaan rakyat Indonesia bertambah meriah karena bertepatan pula dengan hari-hari menjelang perayaan Idul Fitri 1433 H.  Upacara 17 Agustus 2012 di Istana Negara begitu hikmat ketika pengibaran sang merah putih dilaksanakan.  Semua hadirin yang terlibat dalam upacara itu segera memberikan hormat kepada bendera tersebut.

Ketua DPR, Marzuki Ali dengan lantang membacakan teks proklamasi di depan orang nomor satu di Indonesia dan kepada masyarakat yang menyaksikan di depan layar kaca televisi Indonesia.  Semarak terompet dan alunan musik kemerdekaan membuat upacara kemerdekaan meriah dan sukses.  Begitu luar biasa upacara yang berlangsung pagi itu.

Terlepas dari itu semua, Indonesia memang secara fisik sudah mengalami yang namanya kemerdekaan.  Bangsa Belanda dan Jepang sudah tidak lagi 'bertengger' di pohon kenegaraan Republik Indonesia.  Mereka juga sudah tidak mencaplok dan menjajah Rakyat Indonesia.  Tak ada lagi kolonial dan bangsa penjajah yang melakukan agresi kepada bangsa merah putih semenjak dibacakannya teks pada 17-08-1945 tersebut.

Namun, apakah ini menandakan Indonesia sudah merdeka 'hakiki' ? Secara agresi dan serangan fisik, Indonesia boleh jadi terlepas dari rantai belenggu kaum kolonial.  Akan tetapi yang perlu dicatat adalah Negara Barat tetap menyerang Indonesia melalui arah yang berbeda.  Bukan dari adu senjata atau adu fisik.  Akan tetapi virus pemikiran dan sistemlah yang akan segera menggerogoti jantung pertahanan Indonesia.

Tabir kemerdekaan sudahlah tidak berarti jika pemikiran dan sistem dijajah.  Gelora upacara kemerdekaan yang hikmat dan meriah tak ada artinya jika invasi demi invasi berupa pemahaman sesat dilancarkan oleh Negara Kafir Barat.  Dan hari ulang tahun bukan hari bahagia apabila 'mereka' terus menyakiti hati masyarakat Indonesia dengan keganasan 'taring' berupa kebijakan yang tak manusiawi.

Bukan kemerdekaan namanya jika rakyat masih miskin.  Dan bukan kemerdekaan namanya jika SDA di Papua terus diambil oleh PT.Freeport.  Angka kematian terus bertambah.  Bunuh diri dan tindak kriminal semakin menjadi-jadi.  Harga pangan naik, rakyat tak berhenti menjerit.

Inilah fakta bangsa berjuta sumber daya.  Angka pertumbuhan ekonomi terus menaik, akan tetapi tidak diikuti dengan bertambahnya tingkat kesejahteraan masyarakat.  Pengamat ekonomi for Global Justice, Salamuddin Daeng, menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia bersifat anomali.  Yaitu secara peningkatan ekonomi naik, akan tetapi kesejahteraan rakyat tidak lebih baik. (www.hizbut-tahrir.or.id)

Dan paling mengejutkan, beliau mengatakan bahwa salah satu faktor yang menyebabkan hal itu terjadi adalah faktor adanya investor asing yang bermain dengan Sumber Daya Alam di Indonesia.  Dan pada kenyataanya ini sudah merebak di berbagai wilayah di Indonesia.

Bukan hanya itu, Chairul Tanjung juga menyatakan bahwa masyarakat miskin di Indonesia itu buaaanyak katanya.  Malah, jumlah rakyat miskin di Indonesia sudah menyamai jumlah warga Australia yang berjumlah 20,5 juta dan warga Malaysia yang berjumlah 28,3 juta jiwa.  Pertanyaannya sekarang, apa ini yang disebut dengan MERDEKA ?

Taat pada Allah

Padahal Allah SWT sudah mengingatkan dalam firman-Nya :
"Dan hendaklah kamu berhukum (memerintah) dengan apa-apa yang diturunkan Allah.  Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu mereka.  Dan berhati-hatilah kamu supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa-apa yang telah Allah turunkan kepada mu"(TQS. Al-Maaidah:49)

Firman ini sudah jelas bahwa Allah SWT sudah menunjukkan kepada umat manusia untuk menegakkan apa yang disebut dengan syari'at islam.  Penguasa dan masyarakat Indonesia Allah perintahkan hanya untuk taat kepada-Nya.  Kemerdekaan yang hakiki tidaklah muncul di tengah Negara Nusantarai ini disebabkan tidak adanya ketaatan penuh kepada perintah Allah SWT.  Mereka lebih memilih takut kepada asing dari pada Allah, sang maha pencipta manusia dan semesta alam.  Hawa nafsu dan godaan syaithan lebih mereka banggakan dari pada perintah dan larangan Allah SWT.  Dan mereka tidaklah berhati-hati dengan apa yang mereka lakukan selama berkuasa dan memegang jabatan.

Dan Allah sudah benar-benar tegas memerintahkan manusia untuk menerapkan hukum Allah SWT.  Dalam surah Al-Maaidah 44, 45, dan 47.  Allah 3 kali menegaskan kepada manusia supaya hanya berhukum dengan hukum-Nya.  Allah berfirman : "Dan Barang Siapa yang tidak berhukum (memerintah) dengan apa-apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang yang kafir" (TQS. Al-Maaidah:44), maka mereka itulah orang-oran yang dzalim (45), maka mereka itulah orang-orang yang fasik (menyekutukan Allah) (47).

Sudah jelas bahwa 3 ayat ini mengindikasikan bahwa Allah SWT sudah benar, benar, dan benar tegas kepada manusia yang tidak taat.  Hanya Allah SWT pemegang kekuasaan dan kemerdekaan bagi manusia.  Jika Indonesia tidak taat, bagaimana Allah SWT akan memerdekaan Indonesia dari penjajah ? Ya, tidak ada jalan lain.  Pilihannya hanya dua.  TAAT atau MURKA ? Bila taat, Allah akan menolong.  Bila murka, tunggulah azab-Nya.  [] Sifr_Ar-Razi

0 comment:

Poskan Komentar