Tragedi Mesir, Pengulangan Sejarah yang Tak Berujung

Penarikan kekuasaan secara paksa (kudeta) terhadap presiden mesir, Muhammad Mursi menimbulkan tragedi berdarah terhadap pendukungnya.  Tercatat 2.000 hingga 3.000 orang tewas dalam tragedi ini.  Berbagai serangan brutal dilakukan oleh militer yang dipimpin oleh Al-Sisi demi menutup mundur para demonstran yang menginginkan kembalinya Muhammad Mursi. 


Melihat peristiwa itu, ummat muslim dunia tak tinggal diam.  Mereka berbondong-bondong untuk berpartisipasi dalam pengecaman tindak militer mesir yang kejam dan tidak berperikemanusiaan.  Aksi damai terus dilakukan sebagai bentuk solidaritas terhadap persaudaraan sesama muslim.  Dan mayoritas ummat islam, khususnya Indonesia sepakat untuk mengecam tragedi ini.

Namun, sejalan dengan terjadinya tragedi berdarah ini, muncul berbagai pertanyaan “Mengapa hal ini dapat terjadi ?”.  Atau pun muncul berbagai keganjalan dan dilema yang tak kunjung menepi.  Padahal kita tahu, ini bukanlah tragedi pertama yang terjadi di tengah-tengah ummat dunia.

Pengulangan Sejarah

Tepat pada 24 Juni 2012, Muhammad Mursi, pemimpin partai ikhwanul muslimin diresmikan sebagai presiden mesir setelah mengalahkan lawan pemilunya, Ahmed Shafik.  Mursi memenangkan suara sebanyak 51,37 %.  Sedangkan Ahmed Shafik tipis dibawah suara Mursi sebanyak 48,3 %.  (http://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Mursi)

Setelah kemenangan telaknya ini,  tidak lama Muhammad Mursipun digulingkan oleh berbagai pihak yang “tidak senang” dengan naiknya Mursi sebagai presiden.   Dan tepat pada 3 Juli 2013, Abdul Fattah El-Sisi, pemimpin militer Mesir mengatakan bahwa Muhammad Mursi telah dilengserkan dan mengangkat kepala Mahkamah Konstitusi sebagai pemegang jabatan sementara Presiden Mesir.

Hal serupa juga pernah terjadi di pada negara tetangga Mesir, Aljazair.  Pada pemilu 1991, Front Islamic du Salut atau yang sering disebut FIS ini meraih kemenangan mutlak sebesar 54 % suara dan mendapat 188 kursi di parlemen atau menguasai 81 %.  Dan partai yang mempunyai misi menerapkan asas islam sebagai asas negara ini akhirnya menang telak pada putaran kedua pemilu.  (eramuslim.com)

Namun, kemenangan FIS ini tidak bertahan lama dan akhirnya mengalami kudeta oleh militer di Aljazair.  Benjadid yang berhasil dikalahkan oleh FIS dalam pemilu berusaha berkonsolidasi dan menggalang kekuatan untuk menghancurkan FIS dan membatalkan hasil pemilu.  Muhammad Boudiaf, mewakili militer pun andil dalam usaha ini.
 
Militer Aljazair yang dipimpin Muhammad Boudiaf berhasil menstigmatisasi FIS.  Mereka mencao FIS sebagai partai politik terlarang.  Pemimpin FIS, Abbasi Madani dan Ali Benhaj pun dipenjarakan.  Para pendukung FIS banyak yang ditangkap dan tidak jarang ada yang dibunuh.  Hingga akhirnya pemimpin militer Aljazair, Muhammad Boudiaf tewas di tangan Mohammad Bumaaraf yang berusia 26 tahun.
Dan kini, Aljazair dipimpin oleh Abdul Aziz Boetuflika yang sekuler.  Keadaan Aljazair tunggang langgang dan tidak tahu kemana lagi perjalanan negara ini selanjutnya.  (eramuslim.com)


Takut diterapkan Syari’at Islam

Melihat tragedi di Aljazair, Mesir, dan negara arab lainnya, bisa diambil kesimpulan bahwa Israil dan Amerika Serikat beserta antek-anteknya takut akan diterapkannya kembali syari’at islam di tengah ummat ini.  Hal ini sangat terlihat dengan peristiwa kudeta pemimpin-pemimpin arab yang sah secara demokratis menang dalam pemilu.  Seperti FIS yang sejak dari awal konsisten dengan visi dan misi ingin menerapkan syari’at islam sebagai asas negara akhirnya dihancurkan dan dibubarkan.   Dan sekarang, partai islam Ikhwanul Muslimin berhasil juga menang secara demokratis dalam pemilu.  Bahkan mayoritas mesir mendukung Mohammad Mursi.  Namun, lagi-lagi tragedi Aljazair terulang kembali.

Mohammad Mursi berhasil dikudeta dan Mesir tidak tahu lagi mau kemana selanjutnya.  Dan ternyata, apa sesungguhnya alasan Militer Mesir yang dibantu oleh Israel dan Amerika Serikat ini begitu tidak ingin Mohammad Mursi dan Ikhwanul Muslimin berkuasa ? Tentu karena IM dan Mohammad Mursi tidak mendukung kepentingan mereka.

Ini terbukti dari perkataan para analis politik Israel yang sangat mengkhawatirkan naiknya kandidat presiden dari kubu islam, khususnya dari partai Ikhwanul Muslimin.  Shaul Monash, seorang analis Israel mengatakan, “Muhammad Mursi menyatakan akan menerapkan syariat Islam di Mesir, dan menganggap Israel sebagai musuh menuntut kembalinya Al-Quds.”  Ditambahkannya, Mursi juga menginginkan terbentuknya pemerintahan Palestina.

Dari salah satu pernyataan inilah, Israel dan Amerika Serikat membentuk sebuah kekuatan untuk “memusnahkan” partai IM dan Muhammad Mursi dari tonggak kekuasaan.  Mereka begitu “phobia” terhadap kekuasaan Islam.  Mereka takut hukum Islam ini diterapkan.  Dan sekali lagi, peristiwa Mesir ini bukanlah yang pertama.  Namun, sudah berkali-kali AS beserta anteknya menggulingkan pemimpin yang berusaha menghalangi kepentingannya.

Konsekuensi dibawah Sistem Demokrasi

Inilah fakta, inilah realita.  Terjadinya Arab Spring yang silih berganti dan tidak kunjung menepi adalah sebagai bukti nyata bahwa Ummat Islam tidak boleh tunduk terhadap demokrasi.  Sekali lagi fakta membuktikan, Presiden yang sah diangkat menjadi pemimpin Mesir dalam proses pemilu yang sah dan mendapatkan dukungan suara terbanyak mengakhiri jabatannya dengan cara tidak adil.  Bahkan, sadis !

Mengapa sadis ? Karena pemimpin yang secara resmi itu digulingkan secara paksa oleh militer negara Mesir sendiri.  Bahkan menghabisi satu persatu nyawa kaum muslim yang menuntut keadilan.  Pertanyaannya sekarang, apakah masih ada kepercayaan terhadap Amerika Serikat dan antek2nya ? tentu tidak.

Dalam suatu ayat, Allah SWT berfirman :

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setiamu, mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa diantara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim". (QS : al-Maidah : 51)

Maka, inilah bukti bagaimana Allah SWT melarang ummat islam masuk dalam jurang “perlindungan” Amerika Serikat dan sekutu2nya.

Solusi, Persatuan Ummat Islam

Sudah seyogyanya ummat islam Indonesia bahkan dunia bersatu dalam ikatan aqidah islam untuk menyelesaikan segala problem perpecahan saat ini.  Lihatlah ummat islam yang dulu bersatu dalam bingkai kekhilafahan.  Sejak dari zaman kekhilafahan khulafa urrasyidin, umayyah, abbasiyah, hingga utsmaniyyah.  Namun, fakta yang terjadi sekarang, ummat terpecah belah seperti potongan kue yang dijatah satu per satu kepada negara imperialis barat.

Persatuan Islam ini dikuatkan dengan dalil firman Allah SWT.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا
وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara;
dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.(QS. Ali 'Imran [3]: 103)


Maka, marilah saudara-saudaraku.. kini saatnya kita berjuang untuk mempersatukan ummat islam.  Bukan hanya seluruh rakyat Indonesia saja.  Namun, seluruh negara-negara islam dunia lainnya dalam satu kepemimpinan, satu aqidah, dan satu aturan dan hukum yang diterapkan.  Yaitu, Hukum Allah SWT.  Tentunya dalam bingkai sebuah negara besar yang mampu mengalahkan imperium barat, musuh-musuh Allah SWT.  Wallahu ‘alam. []    

0 comment:

Poskan Komentar