Al-Azhar pada khususnya, dan Mesir pada umumnya, tidak seindah yang kita bayangkan. begitu juga sebaliknya, tidak seseram yang kita bayangkan. Manis pahit kehidupan pasti akan dirasakan oleh setiap mahasiswa yang kuliah di sini. Baik dari segi akademis maupun dari segi kehidupan sehari-hari.
Mesir, khususnya Al-Azhar menyimpan khazanah keilmuan yang sangat melimpah. Maka sangat wajar jika Al-Azhar selalu diminati oleh setiap orang dari berbagai negara. Menurut data statistik yang ada, mahasiswa Indonesia saja yang kuliah di Mesir mencapai angka 5000 orang, dengan prosentase sekitar 90% kuliah di Al-Azhar, sedangkan sisasanya kuliah di universitas lainnya, seperti Universitas Kairo (Cairo University), Universitas Ainun Syams (Ainun Syams University), Universitas Zamalek, dan universitas lainnya.
Selain itu juga, negara Mesir sering disebut sebagai gudangnya ilmu, karena memang di Mesir berbagai cabang ilmu ada, bahkan referensi berbentuk literature sangat banyak. Dari mulai aliran kanan sampai aliran kiri, berkembang disini. Bahkan pergerakanpun sangat beragam. Dari mulai gerakan Ikhwanul Muslimin, Anshor Sunnah, JT, HT, salafi, sampai orang liberalpun banyak. Dan tokoh-tokohnyapun selalu giat menyebarkan pemahamannya. Seperti Ust. Muhammad mahdi Akif (dari IM), DR. Hasan Hanafi (tokoh yang pemikirannya liberal), Syekh Hassan Ayuub, dll. 

Tak terasa, kini bangsa Indonesia telah merayakan  'ulang tahun' kemerdekaannya yang ke 67.  Kebahagiaan rakyat Indonesia bertambah meriah karena bertepatan pula dengan hari-hari menjelang perayaan Idul Fitri 1433 H.  Upacara 17 Agustus 2012 di Istana Negara begitu hikmat ketika pengibaran sang merah putih dilaksanakan.  Semua hadirin yang terlibat dalam upacara itu segera memberikan hormat kepada bendera tersebut.

Ketua DPR, Marzuki Ali dengan lantang membacakan teks proklamasi di depan orang nomor satu di Indonesia dan kepada masyarakat yang menyaksikan di depan layar kaca televisi Indonesia.  Semarak terompet dan alunan musik kemerdekaan membuat upacara kemerdekaan meriah dan sukses.  Begitu luar biasa upacara yang berlangsung pagi itu.

Terlepas dari itu semua, Indonesia memang secara fisik sudah mengalami yang namanya kemerdekaan.  Bangsa Belanda dan Jepang sudah tidak lagi 'bertengger' di pohon kenegaraan Republik Indonesia.  Mereka juga sudah tidak mencaplok dan menjajah Rakyat Indonesia.  Tak ada lagi kolonial dan bangsa penjajah yang melakukan agresi kepada bangsa merah putih semenjak dibacakannya teks pada 17-08-1945 tersebut.

Namun, apakah ini menandakan Indonesia sudah merdeka 'hakiki' ? Secara agresi dan serangan fisik, Indonesia boleh jadi terlepas dari rantai belenggu kaum kolonial.  Akan tetapi yang perlu dicatat adalah Negara Barat tetap menyerang Indonesia melalui arah yang berbeda.  Bukan dari adu senjata atau adu fisik.  Akan tetapi virus pemikiran dan sistemlah yang akan segera menggerogoti jantung pertahanan Indonesia.

Remaja... itulah masa dimana mulai munculnya dilema dan problematika.  Pada masa ini, banyak yang terjebak dan entah kemana dia harus tertuju.  Lulus dari SD, ke SMP, kemudian ke SMA, setelah lulus lanjut ke Perguruan Tinggi.  Setelah lulus dari kuliah, sebagian besar melanjutkan jenjang kuliah berikutnya dan ada juga yang memilih pilihannya untuk bekerja.  Tak ada artinya hidup tanpa adanya duit.  Mungkin pernyataan ini terucap oleh sebagian remaja kita yang setelah lulus kuliah dilanjutkan dengan mencari lapangan pekerjaan.

Dengan hanya modal lulus S-1, banyak remaja yang sudah punya pekerjaan dan akhirnya bisa mendapatkan nafkah sendiri tanpa harus meminta pada orang tua.  Suasana sibuk, tertekan dengan tugas kuliah, ditambah harus mencari biaya hidup sendiri membuat remaja sekarang sudah tidak terlalu memikirkan nasib bangsa ini.  Mereka yang masih kuliah maupun yang sudah bekerja sudah pusing 7 keliling dengan nasib negara Indonesia.  Mereka sibuk dengan tugas kuliah yang menggunung, biaya kuliah yang mahal, dan lingkungan yang penuh dengan pekerjaan.

Mereka tak ada waktu untuk memikirkan nasib bangsa.  Sekarang ini, diskusi serta aksi dari para mahasiswa tentang perubahan bangsa Indonesia sudah minim.  Di perkuliahan saja, materi diskusi sudah jarang dijumpai di universitas-universitas.  Tak banyak hari ini upaya nyata para remaja dan mahasiswa untuk terjun langsung memperjuangkan perubahan bangsa.  Hanya sebagian para remaja sekarang yang terdorong untuk mau terlibat dalam hal ini.  Mengapa demikian ?  

Pragmatis/Apatis sejak dini

Pragmatis... inilah sifat manusia yang menganggap hal secara praktis dan bermanfaat bagi umum.  Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan pragmatis sebagai suatu sifat praktis dan berguna bagi umum.  bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan (kemanfaatan); tmengenai atau bersangkutan dengan nilai-nilai praktis; 2 mengenai atau bersangkutan dengan pragmatisme.  Sedangkan apati merupakan sifat acuh tidak acuh ;tidak peduli; masa bodoh ;kita tidak boleh bersikap. (bahasa. kemdiknas. go. id)